Tantangan Pendidikan Islam di Era Society 5.0: Integrasi Literasi Teknologi dan Pendidikan Karakter di Madrasah
Kata Kunci:
Society 5.0, pendidikan Islam, literasi teknologi, pendidikan karakter, madrasah, kecerdasan buatan, kurikulum adaptif, etika digitalAbstrak
Era Society 5.0 menghadirkan paradigma masyarakat yang berpusat pada manusia dengan integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan data besar sebagai penggerak utama transformasi sosial-ekonomi. Dalam konteks pendidikan Islam, khususnya di madrasah, era ini menawarkan peluang sekaligus tantangan kompleks. Di satu sisi, teknologi dapat memperluas akses pengetahuan, personalisasi pembelajaran, dan efisiensi administrasi. Di sisi lain, kesenjangan infrastruktur, kompetensi guru yang belum merata, kurikulum yang kaku, serta degradasi nilai adab dan akhlak di ruang digital mengancam keberlanjutan misi pendidikan Islam. Artikel ini mengkaji tantangan pendidikan Islam di era Society 5.0 dengan fokus pada integrasi literasi teknologi dan pendidikan karakter di madrasah. Menggunakan pendekatan analisis konseptual dan tinjauan sistematis terhadap literatur terkini (2019–2026), kebijakan publik, dan praktik lapangan, studi ini mengidentifikasi empat tantangan utama: (1) kesenjangan akses dan kompetensi digital, (2) fragmentasi kurikulum antara kompetensi teknis dan nilai keislaman, (3) dilema etis pemanfaatan AI dan media digital, serta (4) lemahnya ekosistem pendukung yang terintegrasi. Temuan menunjukkan bahwa integrasi yang efektif memerlukan model pedagogi hybrid yang menyelaraskan literasi teknologi kritis, pendidikan karakter berbasis adab Islami, dan kurikulum adaptif yang responsif terhadap dinamika Society 5.0. Rekomendasi kebijakan mencakup penguatan kerangka nasional literasi digital madrasah, pengembangan kompetensi guru melalui komunitas praktik, penyusunan pedoman etika AI berbasis nilai Islam, serta kemitraan strategis dengan sektor teknologi dan komunitas. Artikel ini berargumen bahwa madrasah tidak sekadar harus mengejar ketertinggalan teknis, melainkan memposisikan diri sebagai model pendidikan yang humanis, etis, dan berakar pada epistemologi Islam di tengah arus digitalisasi global.