Pola Asuh Digital (Digital Parenting) dan Dampaknya terhadap Perkembangan Sosio-Emosional Anak di Era Literasi Digital
Kata Kunci:
pola asuh digital, perkembangan sosio-emosional, literasi digital, mediasi orang tua, *digital well-being*, anak usia dini dan remaja, teknologi digital, regulasi emosiAbstrak
Transformasi digital yang berlangsung secara eksponensial telah mengubah lanskap pengasuhan anak secara fundamental. Pola asuh digital (*digital parenting*) merujuk pada serangkaian strategi, praktik, dan keyakinan yang diadopsi orang tua dalam mengelola, memediasi, dan memfasilitasi interaksi anak dengan teknologi digital. Di era literasi digital, kehadiran gawai, platform media sosial, permainan daring, dan konten edukatif berbasis internet tidak lagi dapat dihindari, melainkan menjadi bagian integral dari ekosistem perkembangan anak. Artikel ini mengkaji secara komprehensif hubungan antara pola asuh digital dan perkembangan sosio-emosional anak usia dini hingga remaja awal, dengan penekanan pada mekanisme mediasi, dampak positif dan negatif, serta peran literasi digital orang tua sebagai variabel penentu. Melalui pendekatan tinjauan literatur sistematis dan analisis konseptual berbasis bukti empiris terkini (2020–2026), artikel ini mengidentifikasi bahwa pola asuh digital yang responsif, berbasis dialog, dan selaras dengan tahap perkembangan anak berkorelasi positif dengan regulasi emosi, empati, kompetensi sosial, dan ketahanan psikologis. Sebaliknya, gaya pengasuhan yang restriktif ekstrem, permisif tanpa batas, atau disertai ketidakselarasan antara nilai yang diajarkan dan praktik orang tua (*parental technoference*) berisiko meningkatkan disregulasi emosional, isolasi sosial, dan ketergantungan digital. Faktor moderator seperti usia anak, konteks sosioekonomi, budaya kolektivis versus individualis, serta kualitas infrastruktur literasi digital sekolah turut memengaruhi efektivitas intervensi pengasuhan. Artikel ini merekomendasikan kerangka kebijakan dan praktis yang mengintegrasikan pendidikan literasi digital orang tua, panduan mediasi berbasis usia, kolaborasi sekolah-keluarga, serta pendekatan etika data dan kesejahteraan digital (*digital well-being*). Implikasi teoretis dan praktis disajikan untuk memperkuat fondasi pengasuhan yang adaptif, berbasis bukti, dan berpusat pada hak serta kebutuhan perkembangan anak di era digital yang terus berevolusi.