Digitalisasi Kesalehan: Konstruksi Identitas Keagamaan Generasi Z di Media Sosial
Keywords:
digitalisasi kesalehan; identitas keagamaan; Generasi Z; media sosial; agama digital; performativitas religius; literasi algoritmikAbstract
Transformasi digital telah menggeser paradigma ekspresi keagamaan dari ruang fisik-institusional menuju ekosistem daring yang terdesentralisasi, partisipatif, dan teralgoritmik. Generasi Z (kelahiran 1997–2012) menjadi aktor utama dalam fenomena ini, memanfaatkan media sosial bukan hanya sebagai saluran komunikasi, melainkan sebagai arena konstruksi identitas keagamaan yang dinamis, performatif, dan sering kali terkomodifikasi. Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana digitalisasi kesalehan membentuk cara Generasi Z memahami, mempraktikkan, dan mempresentasikan identitas religius mereka di ruang publik virtual. Melalui pendekatan tinjauan literatur sistematis dan analisis konseptual berbasis bukti empiris terkini (2020–2026), artikel ini mengidentifikasi bahwa kesalehan digital tidak sekadar replikasi ritus tradisional, melainkan bentuk baru dari networked religion yang dikendalikan oleh logika platform, ekonomi perhatian, dan validasi algoritmik. Generasi Z mengonstruksi identitas keagamaan melalui kurasi konten, kolaborasi lintas-iman, aktivisme digital, dan personalisasi spiritual, namun sekaligus dihadapkan pada paradoks autentisitas versus performativitas, komodifikasi simbol sakral, dan fragmentasi otoritas keagamaan. Faktor moderator seperti literasi digital, latar belakang sosio-kultural, dan desain arsitektur platform secara signifikan memengaruhi arah konstruksi identitas. Artikel ini merekomendasikan kerangka pendidikan agama yang responsif terhadap ekologi digital, penguatan literasi algoritmik di kalangan muda beriman, serta kebijakan platform yang mendukung etika spiritualitas daring tanpa mengorbankan inklusivitas. Implikasi teoretis dan praktis disajikan untuk memperkuat pemahaman akademik mengenai agama di era post-digital, sekaligus memberikan panduan strategis bagi pendidik, tokoh agama, dan pengambil kebijakan dalam mendampingi generasi muda menavigasi spiritualitas yang semakin terhibridisasi.