Resiliensi Masyarakat Multikultural: Mekanisme Bertahan Tradisi Lokal di Tengah Arus Puritanisme

Authors

  • Sulaeman Haryanto IAI Ma'arif Darul Fikri Indramayu, Indonesia Author
  • Satria Paramudya Amar Fahlevi IAI Ma'arif Darul Fikri Indramayu, Indonesia Author

Keywords:

resiliensi multikultural; tradisi lokal; arus puritanisme; adaptasi budaya; sinkretisme strategis; memori kolektif; negosiasi identitas; keberagaman kultural

Abstract

Globalisasi nilai, homogenisasi budaya, dan kebangkitan arus puritanisme keagamaan telah menciptakan tekanan struktural yang signifikan terhadap kelangsungan tradisi lokal di masyarakat multikultural. Puritanisme, yang menekankan pemurnian doktrin, penolakan terhadap praktik sinkretik, dan standardisasi ritual, sering kali berseberangan dengan karakter tradisi lokal yang cair, kontekstual, dan berbasis kearifan komunitas. Artikel ini mengkaji secara sosiologis-antropologis mekanisme resiliensi yang dikembangkan masyarakat multikultural dalam mempertahankan, mengadaptasi, dan merevitalisasi tradisi lokal di tengah dominasi wacana puritanis. Melalui sintesis kritis literatur empiris dan teoretis terkini (2020–2026), artikel ini mengidentifikasi bahwa resiliensi budaya tidak bersifat defensif atau statis, melainkan proses dinamis yang melibatkan negosiasi makna, adaptasi ritual, sinkretisme strategis, revitalisasi memori kolektif, dan pemanfaatan ruang publik serta digital sebagai arena legitimasi. Masyarakat multikultural tidak menolak perubahan secara mutlak, melainkan mengembangkan strategi hibridisasi yang memungkinkan tradisi lokal tetap relevan tanpa kehilangan inti simbolik dan fungsi sosialnya. Mekanisme ini dimediasi oleh kepemimpinan lokal, kelembagaan informal, jaringan kekerabatan, dan literasi kultural yang memungkinkan komunitas menavigasi tekanan puritanisme tanpa terfragmentasi. Namun, resiliensi budaya juga menghadapi tantangan berupa komodifikasi tradisi, generational gap, politisasi identitas, dan marginalisasi epistemik terhadap pengetahuan lokal. Artikel ini merekomendasikan pendekatan kebijakan dan praktis yang mengedepankan pendidikan multikultural berbasis kearifan lokal, perlindungan ruang ritual yang inklusif, pendokumentasian partisipatif tradisi, serta kerangka dialog antar-iman yang mengakui pluralitas praktik keagamaan. Implikasi teoretis dan praktis disajikan untuk memperkuat pemahaman akademik mengenai dinamika resiliensi budaya di abad ke-21, sekaligus memberikan panduan strategis bagi praktisi budaya, tokoh masyarakat, pendidik, dan pembuat kebijakan dalam mendesain ekosistem yang melindungi keragaman kultural tanpa mengorbankan kohesi sosial.

Downloads

Published

2026-05-12